Manusia, Pembangunan, dan Angka-angka

Gemuruh suara traktor tak lagi menjadi kejutan dalam  beberapa tahun belakangan. Masyarakat semakin akrab sejak jalan dan pelabuhan mulai dikerjakan. Apalagi bagi anak-anak muda yang menjadi kuli angkut di dermaga. Mereka makin kenal uang sejak kapal barang mulai sering berlabuh.

IMG_0074

Setelah pemekaran Kabupaten Nduga tahun 2008, kampung Mumugu Batas Batu disiapkan menjadi pintu masuk perdagangan. Posisinya memang strategis, berada di perbatasan Kabupaten Asmat dan Nduga. Orang-orang dari luar pun mulai datang. Jalan menuju kawasan pelabuhan kini mulai diisi kios-kios pedagang. Mereka kebanyakan dari Sulawesi hingga Jawa, menjual sembako hingga pakaian.

Perputaran uang dan peralihan lahan kemudian jamak terjadi dalam waktu singkat. Masyarakat yang hidup dari hasil hutan dan berburu hewan,  tiba-tiba dihadapkan pada sistem ekonomi modern. Persetujuan mereka jelas tak dibutuhkan. Pusat, sebagaimana mereka menyebut pemerintahan di Jakarta, kerap menjadi pihak yang paling tahu atas hidup orang Asmat.

Sementara manusianya tak juga disiapkan. Mayoritas warga buta huruf dan tak terlatih memiliki keahlian tertentu kecuali meramu dan memangkur sagu. Tak adanya aktivitas sekolah sekian lama kian terasa, ketika laju pembangunan semakin menderu. Kealpaan baca tulis hitung akan menjerat mereka pada kesenangan semu. Sehingga berkembangnya wilayah hanya mengantarkan para tuan tanah ini menjadi buruh di tanah ulayat sendiri.

Apa yang terjadi di pedalaman Papua itu merupakan salah satu potret pembangunan Indonesia saat ini. Upaya Presiden Jokowi melakukan percepatan infrastruktur patut diapresiasi. Ketimpangan harga yang selama ini terjadi pada daerah-daerah di wilayah timur berusaha diatasi dengan menggenjot pemenuhan prasarana.

Target pembangunan tak main-main, 1.000 km jalan tol, 49 waduk, dan 35.000 MW listrik dalam lima tahun. Jokowi memantau sendiri seluruh proyek itu, berpindah provinsi selang sehari, termasuk telah mengunjungi Papua tiga kali untuk meresmikan berbagai proyek di sana. Belum pernah ada presiden yang segetol itu sidak sana sini.

Dalam RPJMN 2015-2019, disebutkan pada akhir pemerintahan ini tingkat kemiskinan akan berada di angka 7-8 persen. Target inflasi 3,5-5 persen, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, meningkat drastis dari capaian tahun 2014 yang berada di level 5,02 persen.

Dengan angka-angka itu, secara keseluruhan negara ini bisa jadi akan tampak menjadi lebih sejahtera dengan adanya penyebaran pusat-pusat pertumbuhan. Tapi membangun tanpa menyiapkan manusianya sama saja dengan menyelesaikan masalah dengan menyisakan masalah yang lain.

Pendidikan yang rendah hanya akan membuat mereka kalah bersaing dari para pendatang. Ketimpangan pembangunan yang berusaha diatasi pemerintah pada akhirnya justru membawa ketimpangan sosial di masyarakat. Pertumbuhan ekonomi di satu pihak dan marginalisasi masyarakat asli di pihak lain, adalah salah satu pemicu kecemburuan sosial yang setiap saat dapat memicu gesekan.

Apakah presiden turut memastikan kehidupan warga pasca terjadinya pembangunan? Bahwa pembangunan tak hanya berujung capaian angka-angka pertumbuhan, tapi juga perubahan sosial ekonomi masyarakat. Jutaan warga yang harus merelakan tanahnya atas nama kepentingan umum itu perlu didengar suaranya. Mengapa para petani Pegunungan Kendeng menolak pabrik semen, mengapa masyarakat Batang menolak PLTU, atau mengapa orang-orang Marind di Merauke menolak hutan sagu mereka berganti menjadi sawah.

Ruang yang disediakan bagi keterlibatan penduduk lokal sangat minim. Akibatnya, permasalahan ekonomi masih akan terus menjadi tantangan besar, seperti penggusuran, konflik lahan dan upah buruh. Perebutan lahan terjadi antara properti besar dan rakyat atau antara rakyat dan korporasi perkebunan. Situasi ini menjadi arena pertarungan bagi masyarakat yang merasa kehidupannya direbut.

Dampak sosial pasca pembangunan harus mendapat tempat yang setara dengan perencanaan pembangunan. Bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga non fisik. Sinergi antar kementerian diperlukan, saat kementerian bidang ekonomi menyelesaikan ratusan proyek strategis nasional, kementerian lain di bidang sumber daya manusia menyiapkan masyarakatnya. Rakyat membutuhkan tenaga pendidik dan fasilitator pendamping, bukan polisi atau tentara yang menyingkirkan mereka. Revolusi mental tak hanya jargon bukan?

Pembangunan di masa depan sebaiknya berorientasi keuntungan jangka panjang dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan. Bukan dipaksakan demi pemenuhan capaian angka-angka. Investasi tak hanya pada sektor industri, tapi yang utama pada manusia. Membuat penduduk lokal berdaya untuk memanfaatkan potensi wilayahnya.

Rakyat perlu diberi ruang dan diikutsertakan dalam proses transformasi itu. Percepatan pembangunan sebaiknya seiring sejalan dengan peningkatan kualitas kehidupan. Masyarakat perlu didampingi untuk menghadapi arus perubahan, dibekali pendidikan yang memadai, sehingga saat wilayah mereka semakin tumbuh, rakyatnya sendirilah yang paling menikmati. Karena jika tidak, kita hanya mengulangi kesalahan rezim orde baru.

Dengan kaitkata , , , , , ,

Jalan Panjang Petani Rembang

Truk pembawa semen dan pasir hilir mudik di depan mereka. Dari balik tenda, beberapa warga masih setia menunggui simbol perjuangan itu yang terletak di sekitar pintu masuk pembangunan pabrik milik PT Semen Indonesia. Hari itu sudah hampir tengah hari di Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

 

20150415_122125

Siang itu, 18 April 2015, bulan kesepuluh mereka mendirikan tenda. “Ibu bumi iki wes njaluk tulung, ‘duh anakku iki tulungo aku,’ wis muni ngono paribasan.  Aku sadulur iki podo karo anake, sing upakara ibu bumi iki supaya tetap lestari, tur yo wong-wong sing uripe e ning ndeso iki yo ben tentrem, ben sejahtera urip e koyo ndisik-ndisik,” —(Ibu bumi itu sudah minta tolong, ‘duh anakku tolong aku,’seperti itu peribahasanya. Kami semua sebagai anak ibu bumi, yang menjaga ibu bumi agar tetap lestari, biar orang-orang di sini hidupnya di desa biar tentram, biar sejahtera hidupnya kaya dulu-dulu). Itu jawaban Sukinah, salah satu pelopor warga ketika ditanya alasan mereka bertahan.

Penolakan sebagian masyarakat di sana bukan tanpa alasan. Kehadiran pabrik semen dikhawatirkan mengganggu aliran mata air di pegunugan Kendeng Utara, tempat masyarakat bertani dan mencukupi kebutuhan pangan sepanjang tahun. Kementerian lingkungan hidup dan LIPI yang melakukan survei tahun 2014 lalu juga merekomendasikan agar Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang sudah dikantongi perusahaan semen sejak tahun 2012 dikaji ulang. Keberadaan biota yang memiliki peran penting seperti kelelawar, mata air dan fenomena lainnya merupakan indikasi fungsi lindung ekosistem karst. Laporan itu menyebut pemanfaatan karst akan memberikan ancaman bagi keanekaragaman hayati yang ada.

Masyarakat lalu menggugat keabsahan Amdal lewat PTUN Semarang. Setelah menjalani 18 kali sidang, hakim baru menyebut dalam putusannya bahwa gugatan mereka kadaluarsa karena telah melewati 90 hari sejak izin disosialisasikan. Pokok perkara terkait dampak lingkungan sama sekali tidak dibahas. Dalam kelelahan sejak berangkat pukul empat dini hari dari Tegaldowo kampungnya, Sukinah dan ibu-ibu lain sore itu memilih tidak menyerah.  Mereka menyatakan banding, yang kemudian diajukan ke PTTUN Surabaya, dan hingga kini tengah menanti hasil.

Penolakan pabrik semen juga dilakukan tetangga mereka di Kabupaten Pati. Usaha keras para petani di sana berhasil menggagalkan PT Semen Indonesia berdiri di kawasan itu lewat keputusan Mahkamah Agung tahun 2010. Dua tahun kemudian datang lagi PT Indocement. Mereka kembali melawan. November 2011, gugatan warga atas izin Amdal perusahaan tersebut dimenangkan oleh PTUN Semarang. Kasus mereka kini juga berlanjut ke PTTUN Surabaya setelah perusahaan semen dan pemerintah daerah menyatakan banding.

Pertanian kuwi dadi soko gurune negara, lha Jawa Tengah iki sejarahe simbahku iki lumbung pangan nganggo nuswantara, ora mung lumbung pangan nganggo Jawa Tengah tok, ning sak nuswantara, Jawa iki diperang dadi telu: Jawa Timur, Jawa Tengah, lan Jawa Barat, nek umpamae Jawa Timur iki sikil e, Jawa Barat iki sirahe, Jawa Tengah iki wetenge, dadi tengah nggon pangan. Mulane jaman simbahku biyen, Jawa Tengah ora oleh didekke pabrik semen. (Pertanian itu menjadi landasan suatu negara. Jawa Tengah ini menurut sejarahnya kakek nenekku dulu itu lumbung pangan se nusantara. Tak cuma di jawa tengah saja tapi juga se nusantara. Jawa ini dibagi menjadi 3: jawa timur, jawa tengah, jawa barat. Umpamanya Jawa Timur itu kakinya, Jawa Barat kepalanya, Jawa Tengah ini perutnya, jadi sumber pangan. Sejak zaman buyutku dulu, Jawa Tengah gak boleh dibangun pabrik semen,” kata Gunarti, warga desa Sukolilo, Pati.

Pabrik semen datang karena batuan karst pegunungan Kendeng yang mengundang. Kedatangan korporasi memberikan keuntungan investasi bagi pemerintah daerah.  Bagi masyarakat sekitar? Janji lapangan kerja yang justru mengkhawatirkan mereka. Tak lama lagi akan menjadi buruh pabrik atau keamanan, mendapat gaji tapi makan harus membeli. Padahal sekarang mereka sudah menjadi tuan di tanah sendiri.

Sukinah memiliki ladang jagung, palawija, serta sawah, yang ia panen dua hingga tiga kali setahun. Mereka makan dari apa yang mereka tanam dan menyekolahkan anak dari hasil pertanian. Para petani ini hidup sejahtera dari alam. Mereka tak butuh pekerjaan, apalagi pabrik. Perjuangan mereka melestarikan alam adalah upaya untuk terus hidup sentosa.

Setiap melihat gunung masih utuh, melihat pertanian itu hijau subur itu senang. Terus mata air itu masih semula itu senangnya bukan main. Soalnya senang seperti itu tidak bisa dibeli dengan uang. Tidak bisa diganti dengan materi. Itu sejahtera yang tidak bisa dibeli,” jelas Sukinah.

Pemerintah yang menggaungkan swasembada pangan seharusnya memberdayakan masyarakat agar mendapatkan hasil tani yang lebih baik. Mendorong anak-anak mereka melanjutkan pendidikan di bidang pertanian dan pulang ke desa mengembangkan lahannya masing-masing. Modernisasi tak mesti disikapi dengan memasukkan industri, melainkan dengan menerapkan teknologi di dunia tani. Lahan pertanian luas yang mereka butuhkan.

Selasa, 12 April 2016, Sukinah dan delapan ibu-ibu lain kembali datang ke Jakarta. Setahun sebelumnya mereka menabuh lesung di depan istana, mengingatkan presiden adanya ancaman kelestarian lingkungan. Simbol kegentingan itu dianggap angin lalu. Maka pada kedatangan kali ini, mereka mengorbankan kaki sendiri untuk dipasung dengan semen.

Ibu-ibu ini maju bukan karena mengharap simpati, bukan pula karena para lelaki tak peduli. Mereka sengaja berdiri di depan untuk menjamin segala bentuk perlawanan dilakukan tanpa kekerasan. Ia sekaligus  sebuah simbol kala keluarga dan kehidupan anak cucunya kelak mulai terancam.

“Aku udah hilang akal bagaimana caranya pemerintah mau dengar. Ya udah semen aja kaki ini,” kata Sukinah. Ibu-ibu tangguh ini pernah mendapat pukulan aparat, berjalan kaki ratusan kilometer, dan bergantian menjaga tenda di depan tapak pabrik hingga hari ke-678 ini.

Usaha mereka kali ini pun tak kunjung bertemu Jokowi. Meski kali ini ada janji dari dua pejabat yang diutusnya. Tapi mereka tak akan lelah. Mereka manusia-manusia yang menolak tunduk pada ketergesaan zaman. Berani memperjuangkan apa yang mereka yakini.

“Mending kita itu sakit sekarang daripada nanti anak cucu yg merasakan sakit, merasakan dampak-dampak itu. Kalau sakit sekarang pasti nanti ada manisnya gitu loh. Walaupun sekarang kita susah memperjuangkan ini semua tapi suatu saat kita pasti akan mendapatkan kemanisan itu,” tekad Sukinah.

Perjalanan masih panjang. Para petani ini harus terus bertahan dari segala luka perih. Mereka orang-orang yang terus berjuang sekeras-kerasnya, sehormat-hormatnya.

Tahun Ke-26

Pada malam sebelum lusa harinya memasuki tahun baru, aku membuat catatan ini. Bukan tulisan refleksi, apalagi resolusi. Aku tak suka mengumbar janji. Hanya ingin mengingat-ingat saja, bagaimana tahun ini patut diakhiri.

Hari ini setahun yang lalu, sempat punya dua keinginan besar bagi setahun ke depan. Salah satu saja sebenarnya, kalau yang satu tak dapat berarti satu yang lain. Tapi hingga hari ini, dua-duanya pun rupanya tidak. Tak perlulah kujabarkan apa-apa saja itu. Biarlah masa lalu terbang ke belakang. Aku ke depan.

Dua menghilang, kejutan lain datang. Badan berlemak lebih ini menginjakkan kaki di banyak tempat baru. Nama-nama yang sebelumnya tak pernah masuk dalam daftar khayal. Berminggu di pedalaman Asmat, Bermandi matahari di Raja Ampat, berdebur sepoi di Alor, hingga menikmati romantika Jogja. Sungguh aku tak punya khayalan berkelana. Fantasiku hanya leyeh-leyeh di sebuah pondok tepi laut.

Melancong selalu memberi banyak pelajaran. Seorang Pak Guru di Sorong mengingatkan untuk selalu menggunakan akal sehat. Walau tradisi, kalau sudah mengganggu makhluk hidup lain tak ada alasan diteruskan, katanya. Keberanian hidup kudapat dari Pastor Vince di distrik Sawaerma. Pilihannya mendedikasikan hidup bagi orang Asmat, membuat penyakit kusta yang mewabah di dua desa mulai terungkap. Begitu pun Bu Sukinah di Rembang. Godaan uang itu kadang terlalu kuat hingga bikin kita tak bisa hidup tanpanya. Padahal tak semua senang bisa dibeli dengan uang. Termasuk pertanian hijau subur yang dimiliki Bu Kinah. Maka bunuh diri kelas ala Faiz di bantaran kali Gajahwong pun layak mendapat hormat. “Saya tetap bisa bertanggung jawab pada keluarga tapi mimpi saya untuk berguna bagi masyarakat juga tetap bisa.” Ia pindah dan ikut tinggal di kawasan kumuh yang dibinanya. Kupikir, pada akhirnya kita pun bisa terus hidup melalui jalan yang kita senangi.

Lalu apa hasilnya berbagai pelajaran tadi pada hidupku? Sekali lagi ini bukan tulisan refleksi. Jadi tak perlu ada kait mengait antara apa yang kudapat dan apa yang kulakukan.  Karena galau justru bersuka ria di tahun ini. Kegagalan dua angan itu terwujud memaksa diriku mencari-cari capaian lain. Sebagai penutup kekecewaan, atau sekadarmenaikkan lagi kepercayaan diri. Daya upaya yang rupanya juga tak terwujud hingga tahun ini habis.  Aku masih saja terjebak pada tatanan sosial tertentu. Levelnya masih jauh di bawah orang-orang yang kutemui tadi. Jauh sekali.

Nyatanya saat ambisi tak lagi mendominasi, pandangan tak sesempit kamar kos-kosan. Aku tak lagi memaksakan target. Pilihan keluar dari pekerjaan termasuk imbas dari pandangan yang sudah seluas lautan itu. Kalau ada tagar keputusan paling gila tahun ini, dialah jawaranya. Bahkan sehari setelah resmi berhenti tanggal lima januari nanti pun aku belum punya agenda apa-apa.

Kegilaan satu membawa pada kegilaan lain. Hatiku tiba-tiba memerah lagi. Sesosok gadis yang baru saja kukenal pelakunya. (sudah tahu kan bagaimana tahun ini kuakhiri?). Apalah artinya hubungan jarak jauh dan tanpa pekerjaan, kalau bunuh diri kelas saja bisa Faiz lakukan. Yah.. walaupun bunuh diri pulsa yang baru bisa kami buat.

Begitulah. Ada banyak hal yang kuinginkan, perjuangkan, tak juga kudapatkan. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terlintas, terbayangkan, justru ku dapatkan. Allah maha mengetahui bukan. Jadi kupikir biar saja seperti air yang mengalir, yang penting deras alirannya.

Selamat datang tahun penuh kegilaan!

Anak-Anak Muda Kita

Sebuah kertas kecil lusuh beberapa kali berpindah tangan. Sekumpulan anak saling rebut melihat deretan kalimat perintah di atasnya. Daftar petunjuk itu harus mereka pecahkan agar bisa menuju pos selanjutnya hingga mencapai tujuan akhir, sebuah pabrik bata.

Ini salah satu permainan yang dilakukan Asep bersama anak-anak di Rumah Pelangi. Jelajah desa seperti ini berguna bagi anak-anak untuk lebih mengenal desanya. Pun tempat pembuatan bata yang menjadi tujuan utama. Mereka diajak memahami sumber daya desa dimulai dari konteks kehidupan sekitar. Kebutuhan yang tak mampu disediakan pendidikan formal.

Rumah Pelangi menjadi ruang belajar bagi anak dan berkreasi para pemuda. Anak-anak putus sekolah dan para pemuda pengangguran yang selama ini dirasa meresahkan, kemudian dikumpulkan dalam wadah karang taruna. Mereka bergiat di Rumah Pelangi, mengajar anak-anak bermusik, dan memulai usaha kerajinan bambu.

Asep Suharna adalah salah satu pemuda di desa Sindang Sari, Kabupaten Bandung. Aktivitasnya membawa kami ke sana, mendokumentasikan dan menyebarluaskan kabar baik ini. Memulai sesuatu yang kecil, dalam lingkup kecil, tapi berguna. Asep narasumber terakhir yang saya liput pertengahan Agustus lalu.

Bertugas di Lentera Indonesia –program semi dokumenter di NET- membawa saya pada satu cerita ke cerita lain, tentang perjuangan melakukan perubahan.  Satu bulan sebelumnya, saya bertemu Hana Besetuba di Pulau Pura, Kabupaten Alor, NTT. Ia seorang guru pada PAUD yang dirintisnya bersama sang kakak. PAUD pertama yang ada di kampung Retta.

Secara sukarela mereka memulai belajar-mengajar di rumah tahun 2009. Kekhawatiran anak-anak terus bekerja di kebun menjadi alasan kuat Besetuba bersaudara ini terus bertahan menghadapi tantangan. Tahun 2014, sebuah bangunan sekolah dengan tiga ruangan berdiri dengan dana PNPM Mandiri. Upaya tanpa putus mereka melahirkan sokongan masyarakat.

Operasional sekolah lalu dibiayai dana desa per semester dan gereja tiap tahun. PAUD kini berbentuk holistik, yang terintegrasi dengan posyandu. Pendekatan yang membuat semua pihak terlibat bersama demi perkembangan anak.

Hana seorang lulusan SMA berusia 21 tahun. Kegagalan lanjutkan kuliah, ia balas dengan menjadi teladan di desa. Demikian pula Asep. Ia sedari SMP dagang batagor dan baru bisa kuliah dua tahun selepas SMA. Usianya 24 tahun. Kita boleh pesimis bangsa ini bisa berubah drastis. Tapi munculnya mereka, para aktor lokal yang melakukan perubahan pada lingkup lokal, membuat optimisme kita tak pernah mati pada negeri ini.

Lalu apa yang bisa kaum muda lain lakukan? Semoga tak hanya berakhir di atas kertas makalah. Generasi muda Indonesia sebaiknya memiliki kompetensi global dan akar rakyat Indonesia yang kuat. Kita harus belajar untuk mengenal negeri ini. Sehingga menjadi warga global tapi tetap orang Indonesia. Generasi muda yang kreatif akan mencari wadah penyaluran diri seperti mengikuti organisasi atau bahkan menginisiasi gerakan bersama.

Cerita Asep dan Hana ini hanya contoh kecil dari sekian banyak realita di berbagai penjuru negeri. Mereka tidak berpendidikan tinggi. Tidak mendapat banyak referensi. Tapi begitu tahu cara menyelesaikan masalah, semua bergerak melakukannya. Apa yang mereka lakukan jauh lebih cerdas daripada orang yang berpendidikan tinggi tapi tak mampu melakukan apa-apa. Lakukanlah sesuatu sesuai bidang dan minat masing-masing.

Sesungguhnya, iuran terbesar dalam perubahan sosial itu adalah kehadiran. Dan kita, anak-anak muda yang masih energik dan bebas ini yang seharusnya melakukannya.

*Tulisan ini untuk memenuhi pendaftaran Anti Corruption Youth Camp 2015

Vira Ical

“Aku mau cerita Nan. Hmm.. Hihihi. Gak jadi deh. Hihihi..”

Aku sedang sarapan di sebuah warung kue di Larat saat Vira berbagi tawanya itu lewat selular. Di hadapanku ada Uun, yang heran lihat ekspresi bingungku. Dan selama beberapa waktu yang terdengar hanya tawa Vira berderai-derai. Belum pernah aku melihatnya seriang itu. Ia kasmaran.

***

Setahun sebelum itu, aku terlibat obrolan panjang dengan Ical. Saat itu kami masih mengikuti pelatihan pengajar muda di Jatiluhur. Banyak hal kami bicarakan malam itu, dari perkara pekerjaan sampai pilihan pasangan. Ia hanya tersenyum kala aku menyebut nama Vira dalam kriterianya.

Saat itu nama mereka memang sering menjadi bahan “gocekan” teman-teman. Entah apa musababnya, Vira yang berada di camp yang sama, sering kami kaitkan dengan Ical. Hingga pada suatu malam Vira meminta agar mereka tak lagi digoda. Ungkapan “cie cie” itu rupanya membuat hatinya bergetar.

“Makin lama kok aku makin punya rasa ya. Ini gak boleh. Ini bisa mengganggu komitmenku untuk menjaga hati,” katanya.

Setelah digosipkan, mereka terlihat makin canggung. Semakin jarang ada ruang bicara yang mempertemukan mereka. Pelatihan usai. Vira tugas ke Tanimbar, Ical ke Bima.

***

Enam bulan setelah keberangkatan masing-masing, mereka kembali bertemu. Entah disengaja atau tidak, Vira dan Ical menghabiskan sisa cuti di kota yang sama, Makassar. Datang dengan rombongan dan tujuan yang berbeda, mereka bertemu bersama teman-teman lain. Momen berdua baru mereka dapati di bandara, sesaat jelang berangkat. Ical memberi dodol khas Lombok. Sepersekian detik yang kemudian begitu dikenang Vira.

***

Enam bulan berikutnya mereka kembali saling menahan diri. Dodol memang sempat mengganggu, membuat Vira galau beberapa waktu. Tapi ia berusaha komit.

“Aku harus menjaga hati.”

Sampai pada momen aku bertelpon dengannya di warung kue itu. Waktu itu sekitar bulan Mei 2013. Ia baru menemukan 2 foto yang pernah dikirim Ical 9 bulan lalu di hardisknya. Foto tulisan di atas pasir dari dua pantai berbeda.
Pantas Vira tersipu-sipu.

***

Saat kami berkumpul lagi usai masa tugas, Ical justru ragu melangkah.
Vira saat itu memiliki niat segera menikah menikah. Keinginan orang tua, sekaligus target pribadinya. Ical tak siap. Masih ada kakaknya yang tak boleh dilangkahi. Pada Vira ia sampaikan langsung “keikhlasannya” jika ada lelaki lain yang datang serius.

Tapi rupanya hati Vira sudah kadung memilih. Beberapa pria yang datang silih berganti menemui orang tuanya ia tolak dengan beragam alasan. Ia tak mampu berpindah ke lain hati.

Setahun berlalu, mereka tak juga sering bertemu. Tapi rasa itu tetap sama, terus terjaga.

Hingga dalam beberapa jam lagi, mereka akan kembali bertemu. Kali ini tak lagi saling pandang semu; tapi sebuah awal perjalanan baru.

Buah dari segala sabar dalam penantian, jawaban dari segala tanya yang merisaukan.
Savira kan memanggilnya suami, Faisal memanggilnya istri.

***

KA Bangunkarta, 6 Februari 2015, 00.32 WIB.
*ditulis dalam perjalanan Jakarta-Jombang, untuk pernikahan mereka.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.